Latest Stories

RECENT POST @ Entri Terkini

Tuesday, May 4, 2010

Announcement

hye dear readers..
Cerita hangat sensasi telah di pindahkan ke blog pautan iaitu

http://blog-continue.blogspot.com/

Tuesday, April 20, 2010

Memperkosa Isteri Jiran yang Setia

Awalnya aku tak terlalu tertarik dengan pasangan suami-istri muda yang baru tinggal di samping rumahku itu. Suaminya yang bernama Bram, berusia sekitar 32 tahun, merupakan seorang pria dengan wajah tirus dan dingin. Sangat mahal senyum. Sedang istrinya, seorang wanita 23 tahun, bertubuh sintal yang memiliki sepasang mata membola cantik, raut wajah khas wanita Jawa.

Tak beda jauh dengan suaminya, dia juga terlihat kaku dan tertutup. Tapi watak itu, agaknya lebih disebabkan oleh sikap pendiam dan pemalunya. Sehari-harinya, dia selalu mengenakan pakaian kebaya. Latar belakang kehidupan pedesaan wanita berambut ikal panjang ini, terlihat masih cukup kental, Jakarta tak membuatnya berubah. Aku hanya sempat bicara dan bertemu lebih dekat dengan pasangan ini, dihari pertama mereka pindah. Saat mengangkat barang-barangnya, aku kebetulan baru pulang dari jogging dan lewat di depan pintu pagar halaman rumah yang mereka kontrak. Setelah itu, aku tak pernah lagi kontak dengan keduanya. Aku juga tak merasa perlu untuk mengurusi mereka.

Perasaan dan pikiranku mulai berubah, khususnya terhadap si Istri yang bernama Maryati, ketika suatu pagi bangun dari tidur aku duduk di balik jendela. Dari arah sana, secara kebetulan, juga melalui jendela kamarnya, aku menyaksikan si Istri sedang melayani suaminya dengan sangat telaten dan penuh kasih. Mulai menemani makan, mengenakan pakaian, memasang kaos kaki, sepatu, membetulkan letak baju, sampai ketika mencium suaminya yang sedang bersiap-siap untuk turun kerja, semua itu kusaksikan dengan jelas. Aku punya kesimpulan wanita lumayan cantik itu sangat mencintai pasangan hidupnya yang berwajah dingin tersebut.

Entah mengapa, tiba-tiba saja muncul pertanyaan nakal di otakku. Apakah Istri seperti itu memang memiliki kesetiaan yang benar-benar tulus dan jauh dari pikiran macam-macam terhadap suaminya? Sebutlah misalnya berhayal pada suatu ketika bisa melakukan petualangan seksual dengan lelaki lain? Apakah seorang istri seperti itu mampu bertahan dari godaan seks yang kuat, jika pada suatu ketika, dia terposisikan secara paksa kepada suatu kondisi yang memungkinkannya bermain seks dengan pria lain? Apakah dalam situasi seperti itu, dia akan melawan, menolak secara total meski keselamatannya terancam? Atau apakah dia justru melihatnya sebagai peluang untuk dimanfaatkan, dengan dalih ketidakberdayaan karena berada dibawah ancaman? Pertanyaan-pertanyaan itu, secara kuat menyelimuti otak dudaku yang memang kotor dan suka berhayal tentang penyimpangan seksual. Sekaligus juga akhirnya melahirkan sebuah rencana biadab, yang jelas sarat dengan resiko dosa dan hukum yang berat. Aku ingin memperkosa Maryati! Wuah! Tapi itulah memang tekad yang terbangun kuat di otak binatangku.

Sesuatu yang membuatmu mulai hari itu, secara diam-diam melakukan pengamatan dan penelitian intensif terhadap pasangan suami istri muda tersebut. Kuamati, kapan keduanya mulai bangun, mulai tidur, makan dan bercengkrama. Kapan saja si Suami bepergian ke luar kota lebih dari satu malam, karena tugas perusahaannya sebuah distributor peralatan elektronik yang cukup besar. Dengan kata lain, kapan Maryati, wanita dengan sepasang buah dada dan pinggul yang montok sintal itu tidur sendirian di rumahnya.

Untuk diketahui, pasangan ini tidak punya pembantu. Saat itulah yang bakal kupilih untuk momentum memperkosanya. Menikmati bangun dan lekuk-lekuk tubuhnya yang memancing gairah, sambil menguji daya tahan kesetiaannya sebagai istri yang bisa kukategorikan lumayan setia. Sebab setiap suaminya bepergian atau sedang keluar, wanita ini hanya mengunci diri di dalam rumahnya. Selama ini bahkan dia tak pernah kulihat meski hanya untuk duduk-duduk di terasnya yang besar. Itu ciri Ibu Rumah Tangga yang konservatif dan kukuh memegang tradisi sopan-santun budaya wanita timur yang sangat menghormati suami. Meski mungkin mereka sadar, seorang suami, yang terkesan sesetia apapun, jika punya peluang dan kesempatan untuk bermain gila, mudah terjebak ke sana. Aku tahu suaminya, si Bram selalu bepergian keluar kota satu atau dua malam, setiap hari Rabu. Apakah benar-benar untuk keperluan kantornya, atau bisa jadi menyambangi wanita simpanannya yang lain. Dan itu bukan urusanku. Yang penting, pada Rabu malam itulah aku akan melaksanakan aksi biadabku yang mendebarkan.

Semua tahapan tindakan yang akan kulakukan terhadap wanita yang di mataku semakin menggairahkan itu, kususun dengan cermat. Aku akan menyelinap ke rumahnya hanya dengan mengenakan celana training minus celana dalam, serta baju kaos ketat yang mengukir bentuk tubuh bidangku. Buat Anda ketahui, aku pria macho dengan penampilan menarik yang gampang memaksa wanita yang berpapasan denganku biasanya melirik. Momen yang kupilih, adalah pada saat Maryati akan tidur. Karena berdasarka hasil pengamatanku, hanya pada saat itu, dia tidak berkebaya, cuma mengenakan daster tipis yang (mungkin) tanpa kutang. Aku tak terlalu pasti soal ini, karena cuma bisa menyaksikannya sekelebat saja lewat cara mengintip dari balik kaca jendelanya dua hari lalu. Kalau Maryati cuma berdaster, berarti aku tak perlu disibukkan untuk melepaskan stagen, baju, kutang serta kain yang membalut tubuhnya kalau lagi berkebaya. Sedang mengapa aku cuma mengenakan training spack tanpa celana dalam, tahu sendirilah.

Aku menyelinap masuk ke dalam rumahnya lewat pintu dapur yang terbuka petang itu. Saat Maryati pergi mengambil jemuran di kebun belakangnya, aku cepat bersembunyi di balik tumpukan karton kemasan barang-barag elektronik yang terdapat di sudut ruangan dapurnya. Dari sana, dengan sabar dan terus berusaha untuk mengendalikan diri, wanita itu kuamati sebelum dia masuk ke kamar tidurnya. Dengan mengenakan daster tipis dan ternyata benar tanpa kutang kecuali celana dalam di baliknya. Si Istri Setia itu memeriksa kunci-kunci jendela dan pintu rumahnya. Dari dalam kamarnya terdengar suara acara televisi cukup nyaring. Nah, pada saat dia akan masuk ke kamar tidurnya itulah, aku segera memasuki tahapan berikut dari strategi memperkosa wanita bertubuh sintal ini. Dia kusergap dari belakang, sebelah tanganku menutup mulutnya, sedang tangan yang lain secara kuat mengunci kedua tangannya. Maryati terlihat tersentak dengan mata terbeliak lebar karena terkejut sekaligus panik dan ketakutan. Dia berusaha meronta dengan keras. Tapi seperti adegan biasa di film-film yang memperagakan ulah para bajingan, aku cepat mengingatkannya untuk tetap diam dan tidak bertindak bodoh melakukan perlawanan. Hanya bedanya, aku juga mengutarakan permintaan maaf.

"Maafkan saya Mbak. Saya tidak tahan untuk tidak memeluk Mbak. Percayalah, saya tidak akan menyakiti Mbak. Dan saya bersumpah hanya melakukan ini sekali. Sekali saja," bisikku membujuk dengan nafas memburu akibat nafsu dan rasa tegang luar biasa. Maryati tetap tidak peduli. Dia berusaha mengamuk, menendang-nendang saat kakiku menutup pintu kamarnya dan tubuhnya kepepetkan ke dinding. "Kalau Mbak ribut, akan ketahuaan orang. Kita berdua bisa hancur karena malu dan aib. Semua ini tidak akan diketahui orang lain. Saya bersumpah merahasiakannya sampai mati, karena saya tidak mau diketahui orang lain sebagai pemerkosa," bisikku lagi dengan tetap mengunci seluruh gerakan tubuhnya.

Tahapan selanjutnya, adalah menciumi bagian leher belakang dan telinga wanita beraroma tubuh harum merangsang itu. Sedang senjataku yang keras, tegang, perkasa dan penuh urat-urat besar, kutekankan secara keras ke belahan pantatnya dengan gerakan memutar, membuat Maryati semakin terjepit di dinding. Dia mencoba semakin kalap melawan dan meronta, namun apalah artinya tenaga seorang wanita, di hadapan pria kekar yang sedang dikuasai nafsu binatang seperti diriku.

Aksi menciumi dan menekan pantat Maryati terus kulakukan sampai lebih kurang sepuluh menit. Setelah melihat ada peluang lebih baik, dengan gerakan secepat kilat, dasternya kusingkapkan. Celana dalamnya segera kutarik sampai sobek ke bawah, dan sebelum wanita ini tahu apa yang akan kulakukan, belahan pantatnya segera kubuka dan lubang anusnya kujilati secara buas. Maryati terpekik. Sebelah tanganku dengan gesit kemudian menyelinap masuk diantara selangkangannya dari belakang dan meraba serta meremas bagian luar kemaluannya, tapi membiarkan bagian dalamnya tak terjamah. Strategiku mengingatkan belum waktunya sampai ke sana. Aksi menjilat dan meremas serta mengusap-usap ini kulakukan selama beberapa menit. Maryati terus berusaha melepaskan diri sambil memintaku menghentikan tindakan yang disebutnya jahanam itu. Dia berulang-ulang menyebutku binatang dan bajingan. Tak soal. Aku memang sudah jadi binatang bajingan. Dan sekarang sang bajingan sudah tanpa celana, telanjang sebagian.

"Akan kulaporkan ke suamiku," ancamnya kemudian dengan nafas terengah-engah. Aku tak menyahut sambil bangkit berdiri serta menciumi pundaknya. Lalu menempelkan batang perkasaku yang besar, tegang dan panas diantara belahan pantatnya. Menekan dan memutar-mutarnya dengan kuat di sana. Sedang kedua tanganku menyusup ke depan, meraba, meremas dan memainkan puting buah dada besar serta montok wanita yang terus berjuang untuk meloloskan diri dari bencana itu.

"Tolong Mas Dartam, lepaskan aku. Kasihani aku," ratapnya. Aku segera menciumi leher dan belakang telinganya sambil berbisik untuk membujuk, sekaligus memprovokasi. "Kita akan sama-sama mendapat kepuasan Mbak. Tidak ada yang rugi, karena juga tidak akan ada yang tahu. Suamimu sedang keluar kota. Mungkin juga dia sedang bergulat dengan wanita lain. Apakah kau percaya dia setia seperti dirimu," bujukku mesra. "Kau bajingan terkutuk," pekiknya dengan marah. Sebagai jawabannya, tubuh putih yang montok dan harum itu (ciri yang sangat kusenangi) kali ini kupeluk kuat-kuat, lalu kuseret ke atas ranjang dan menjatuhnya di sana. Kemudian kubalik, kedua tangannya kurentangkan ke atas. Selanjutnya, ketiak yang berbulu halus dan basah oleh keringat milik wanita itu, mulai kuciumi. Dari sana, ciumanku meluncur ke sepasang buah dadanya. Menjilat, menggigit-gigit kecil, serta menyedot putingnya yang terasa mengeras tegang.

"Jangan Mas Darta. Jangan.. Tolong lepaskan aku." Wanita itu menggeliat-geliat keras. Masih tetap berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi aku terus bertindak semakin jauh. Kali ini yang menjadi sasaranku adalah perutnya. Kujilat habis, sebelum pelan-pelan merosot turun lebih ke bawah lalu berputar-putar di bukit kemaluannya yang ternyata menggunung tinggi, mirip roti. Sementara tanganku meremas dan mempermainkan buah dadanya, kedua batang paha putih dan mulusnya yang menjepit rapat, berusaha kubuka. Maryati dengan kalap berusaha bangun dan mendorong kepalaku. Kakinya menendang-nendang kasar. Aku cepat menjinakkannya, sebelum kaki dan dengkul yang liar itu secara telak membentur dua biji kejantannanku. Bisa celaka jika itu terjadi. Kalau aku semaput, wanita ini pasti lolos.

Setelah berjuang cukup keras, kedua paha Maryati akhirnya berhasil kukuakkan. Kemudian dengan keahlian melakukan cunnilingus yang kumiliki dari hasil belajar, berteori dan berpraktek selama ini, lubang dan bibir kelamin wanita itu mulai menjadi sasaran lidah dan bibirku. Tanpa sadar Maryati terpekik, saat kecupan dan permainan ujung lidahku menempel kuat di klitorisnya yang mengeras tegang. Kulakukan berbagai sapuan dan dorongan lidah ke bagian-bagian sangat sensitif di dalam liang senggamanya, sambil tanganku terus mengusap, meremas dan memijit-mijit kedua buah dadanya. Maryati menggeliat, terguncang dan tergetar, kadang menggigil, menahan dampak dari semua aksi itu. Kepalanya digeleng-gelengkan secara keras. Entah pernyataan menolak, atau apa. Sambil melakukan hal itu, mataku berusaha memperhatikan permukaan perut Si Istri Setia ini. Dari sana aku bisa mempelajari reaksi otot-otot tubuhnya, terhadap gerakan lidahku yang terus menyeruak masuk dalam ke dalam liang senggamanya. Dengan sentakan-sentakan dan gelombang di bagian atas perut itu, aku akan tahu, di titik dan bagian mana Maryati akan merasa lebih terangsang dan nikmat.

Gelombang rangsangan yang kuat itu kusadari mulai melanda Maryati secara fisik dan emosi, ketika perlawanannya melemah dan kaki serta kepalanya bergerak semakin resah. Tak ada suara yang keluar, karena wanita ini menutup bahkan menggigit bibirnya. Geliat tubuhnya bukan lagi refleksi dari penolakan, tetapi (mungkin) gambaran dari seseorang yang mati-matian sedang menahan kenikmatan. Berulang kali kurasakan kedua pahanya bergetar. Kemaluannya banjir membasah. Ternyata benar analisa otak kotorku beberapa pekan lalu. Bahwa sesetia apapun seorang Istri, ada saat di mana benteng kesetiaan itu ambruk, oleh rangsangan seksual yang dilakukan dalam tempo relatif lama secara paksa, langsung, intensif serta tersembunyi oleh seorang pria ganteng yang ahli dalam masalah seks. Maryati telah menjadi contoh dari hal itu. Mungkin juga ketidakberdayaan yang telah membuatnya memilih untuk pasrah. Tetapi rasanya aku yakin lebih oleh gelora nafsu yang bangkit ingin mencari pelampiasan akibat rangsangan yang kulakukan secara intensif dan ahli di seluruh bagian sensitif tubuhnya.

Aksiku selanjutnya adalah dengan memutar tubuh, berada di atas Maryati, memposisikan batang kejantananku tepat di atas wajah wanita yang sudah mulai membara dibakar nafsu birahi itu. Aku ingin mengetahui, apa reaksinya jika terus kurangsang dengan batang perkasaku yang besar dan hangat tepat berada di depan mulutnya. Wajahku sendiri, masih berada diantara selangkangannyadengan lidah dan bibir terus menjilat serta menghisap klitoris dan liang kewanitaannya.

Paha Maryati sendiri, entah secara sadar atau tidak, semakin membuka lebar, sehingga memberikan kemudahan bagiku untuk menikmati kelaminnya yang sudah membanjir basah. Mulutnya berulangkali melontarkan jeritan kecil tertahan yang bercampur dengan desisan. Aksi itu kulakukan dengan intensif dan penuh nafsu, sehingga berulang kali kurasakan paha serta tubuh wanita cantik itu bergetar dan berkelojotan.

Beberapa menit kemudian mendadak kurasa sebuah benda basah yang panas menyapu batang kejantananku, membuatku jadi agak tersentak. Aha, apalagi itu kalau bukan lidah si Istri Setia ini. Berarti, selesailah sudah seluruh perlawanan yang dibangunnya demikian gigih dan habis-habisan tadi. Wanita ini telah menyerah. Namun sayang, jilatan yang dilakukannya tadi tidak diulanginya, meski batang kejantananku sudah kurendahkan sedemikian rupa, sehingga memungkinkan mulutnya untuk menelan bagian kepalanya yang sudah sangat keras, besar dan panas itu. Boleh jadi wanita ini merasa dia telah menghianati suaminya jika melakukan hal itu, menghisap batang kejantanan pria yang memperkosanya! Tak apa. Yang penting sekarang, aku tahu dia sudah menyerah. Aku cepat kembali membalikkan tubuh. Memposisikan batang kejantananku tepat di depan bukit kewanitaannya yang sudah merekah dan basah oleh cairan dan air ludahku. Aku mulai menciumi pipinya yang basah oleh air mata dan lehernya. Kemudian kedua belah ketiaknya. Maryati menggelinjang liar sambil membuang wajahnya ke samping. Tak ingin bertatapan denganku. Buah dadanya kujilati dengan buas, kemudian berusaha kumasukan sedalam-dalamnya ke dalam mulutku. Tubuh Maryati mengejang menahan nikmat. Tindakan itu kupertahankan selama beberapa menit. Kemudian batang kejantananku semakin kudekatkan ke bibir kemaluannya.

Ah.., wanita ini agaknya sudah mulai tidak sabar menerima batang panas yang besar dan akan memenuhi seluruh liang sanggamanya itu. Karena kurasa pahanya membentang semakin lebar, sementara pinggulnya agak diangkat membuat lubang sanggamanya semakin menganga merah. "Mbak Mar sangat cantik dan merangsang sekali. Hanya lelaki yang beruntung dapat menikmati tubuhmu yang luar biasa ini," gombalku sambil menciumi pipi dan lehernya. "Sekarang punyaku akan memasuki punya Mbak. Aku akan memberikan kenikmatan yang luar biasa pada Mbak. Sekarang nikmatilah dan kenanglah peristiwa ini sepanjang hidup Mbak." Setelah mengatakan hal itu, sambil menarik otot di sekitar anus dan pahaku agar ketegangan kelaminku semakin meningkat tinggi, liang kenikmatanwanita desa yang bermata bulat jelita itu, mulai kuterobos. Maryati terpekik, tubuhnya menggeliat, tapi kutahan. Batang kejantananku terus merasuk semakin dalam dan dalam, sampai akhirnya tenggelam penuh di atas bukit kelamin yang montok berbulu itu.

Untuk sesaat, tubuhku juga ikut bergetar menahan kenikmatan luar biasa pada saat liang kewanitaan wanita ini berdenyut-deyut menjepitnya. Tubuhku kudorongkan ke depan, dengan pantat semakin ditekan ke bawah, membuat pangkal atas batang kejantananku menempel dengan kuat di klitorisnya. Maryati melenguh gelisah. Tangannya tanpa sadar memeluk tubuhku dengan punggung melengkung. Kudiamkan dia sampai agak lebih tenang, kemudian mulailah gerakan alamiah untuk coitus yang membara itu kulakukan.

Maryati kembali terpekik sambil meronta dengan mulut mendesis dan melengguh. Tembakan batang kejantananku kulakukan semakin cepat, dengan gerakan berubah-ubah baik dalam hal sudut tembakannya, maupun bentuknya dalam melakukan penetrasi. Kadang lurus, miring, juga memutar, membuat Maryati benar-benar seperti orang kesurupan. Wanita ini kelihatanya sudah total lupa diri. Tangannya mencengkram pundakku, lalu mendadak kepalanya terangkat ke atas, matanyaterbeliak, giginya dengan kuat menggigit pundakku. Dia orgasme! Gerakan keluar-masuk batang kejantananku kutahan dan hanya memutar-mutarnya, mengaduk seluruh liang sanggama Maryati, agar bisa menyentuh dan menggilas bagian-bagian sensitif di sana.

Wanita berpinggul besar ini meregang dan berkelonjotan berulang kali, dalam tempo waktu sekitar dua puluh detik. Semuanya kemudian berakhir. Mata dan hidungnya segera kuciumi. Pipinya yang basah oleh air mata, kusapu dengan hidungku. Tubuhnya kupeluk semakin erat, sambil mengatakan permintaan maaf atas kebiadabanku. Maryati cuma membisu. Kami berdua saling berdiaman. Kemudian aku mulai beraksi kembali dengan terlebih dahulu mencium dan menjilati leher, telinga, pundak, ketiak serta buah dadanya. Kocokan kejantananku kumulai secara perlahan. Kepalanya kuarahkan ke bagian-bagian yang sensitif atau G-Spot wanita ini. Hanya beberapa detik kemudian, Maryati kembali gelisah. Kali ini aku bangkit, mengangkat kedua pahanya ke atas dan membentangkannya dengan lebar, lalu menghujamkan batang perkasaku sedalam-dalamnya. Maryati terpekik dengan mata terbeliak, menyaksikan batang kejantananku yang mungkin jauh lebih besar dari milik suaminya itu, berulang-ulang keluar masuk diantara lubang berbulu basah miliknya. Matanya tak mau lepas dari sana. Kupikir, wanita ini terbiasa untuk berlaku seperti itu, jika bersetubuh. Wajahnya kemudian menatap wajahku.

"Mas..." bisiknya. Aku mengangguk dengan perasaan lebih terangsang oleh panggilan itu, kocokanbatang kejantananku kutingkatkan semakin cepat dan cepat, sehingga tubuh Maryati terguncang-guncang dahsyat. Pada puncaknya kemudian, wanita ini menjatuhkan tubuhnya di tilam, lalu menggeliat, meregang sambil meremas sprei. Aku tahu dia akan kembali memasuki saat orgasme keduanya. Dan itu terjadi saat mulutnya melontarkan pekikan nyaring, mengatasi suara Krisdayanti yang sedang menyanyi di pesawat televisi di samping ranjang. Pertarungan seru itu kembali usai. Aku terengah dengan tubuh bermandi keringat, di atas tubuh Maryati yang juga basah kuyup. Matanya kuciumi dan hidungnya kukecup dengan lembut. Detak jantungku terasa memacu demikian kuat. Kurasakan batang kejantananku berdenyut-denyut semakin kuat. Aku tahu, ini saat yang baik untuk mempersiapkan orgasmeku sendiri.

Tubuh Maryati kemudian kubalikkan, lalu punggungnya mulai kujilati. Dia mengeluh. Setelah itu, pantatnya kubuka dan kunaikkan ke atas, sehingga lubang anusnya ikut terbuka. Jilatan intensifku segera kuarahkan ke sana, sementara jariku memilin dan mengusap-usap klitorisnya dari belakang. Maryati berulang kali menyentakkan badannya, menahan rasa ngilu itu. Namun beberapa menit kemudian, keinginan bersetubuhnya bangkit kembali. Tubuhnya segera kuangkat dan kuletakkan di depan toilet tepat menghadap cermin besar yang ada di depannya. Dia kuminta jongkok di sana, dengan membuka kakinya agak lebar. Setelah itu dengan agak tidak sabar, batang kejantananku yang terus membesar keras, kuarahkan ke kelaminnya, lalu kusorong masuk sampai ke pangkalnya. Maryati kembali terpekik. Dan pekik itu semakin kerap terdengar ketika batang kejantananku keluar masuk dengan cepat di liang sanggamanya. Bahkan wanita itu benar-benar menjerit berulangkali dengan mata terbeliak, sehingga aku khawatir suaranya bisa didengar orang di luar.

Wanita ini kelihatannya sangat terangsang dengan style bersetubuh seperti itu. Selain batang kejantananku terasa lebih dahsyat menerobos dan menggesek bagian-bagian sensitifnya, dia juga bisa menyaksikan wajahku yang tegang dalam memompanya dari belakang. Dan tidak seperti sebelumnya, Maryati kali ini dengan suara gemetar mengatakan dia akan keluar. Aku cepat mengangkat tubuhnya kembali ke ranjang. Menelentangkannya di sana, kemudian menyetubuhinya habis-habisan, karena aku juga sedang mempersiapkan saat orgasmeku. Aku akan melepas bendungansperma di kepala kejantananku, pada saat wanita ini memasuki orgasmenya. Dan itu terjadi, sekitar lima menit kemudian. Maryati meregang keras dengan tubuh bergetar. Matanya yang cantik terbeliak. Maka orgasmeku segera kulepas dengan hujaman batang kejantanan yang lebih lambat namun lebih kuat serta merasuk sedalam-dalamnya ke liang kewanitaan Maryati.

Kedua mata wanita itu kulihat terbalik, Maryati meneriakkan namaku saat spermaku menyembur berulang kali dalam tenggang waktu sekitar delapan detik ke dalam liang sanggamanya. Tangannya dengan kuat merangkul tubuhku dan tangisnya segera muncul. Kenikmatan luar biasa itu telah memaksa wanita ini menangis.

Aku memejamkan mata sambil memeluknya dengan kuat, merasakan nikmatnya orgasme yang bergelombang itu. Ini adalah orgasmeku yang pertama dan penghabisanku dengan wanita ini. Aku segera berpikir untuk berangkat besok ke Kalimantan, ke tempat pamanku. Mungkin seminggu, sebulan atau lebih menginap di sana. Aku tidak boleh lagi mengulangi perbuatan ini. Tidak boleh, meski misalnya Maryati memintanya.

Monday, April 19, 2010

Diperkosa bakal mertua sebelum pernikahan

Esok ialah hari yang berbahagia buat Ramlah. Itulah harinya dia ditabalkan sebagai seorang isteri. Bagi pengantin perempuan, penonjolan ciri ciri kejelitaan amatlah penting. Sebab itulah sehari sebelum tarikh tersebut, Ramlah bercadang pergi ke bandar. Dia berhasrat untuk mendapatkan khidmat pakar kecantikan yang ada di situ.

Pada pagi itu Hampir dua jam dia menantikan kenderaan untuk membawanya ke bandar. Namun tiada satu pun yang boleh ditumpangi. Lama kelamaan Ramlah mula berasa lemah untuk meneruskan hajat berkenaan. Di dalam serba kehampaan, tiba tiba sebuah kereta berhenti di hadapannya. Pemandu kereta itu ialah Haji Kamus, si bakal mertua Ramlah sendiri.

Pada mulanya dia agak keberatan untuk menumpang kereta tersebut. Beberapa insiden Ramlah pernah diraba oleh Haji Kamus masih lagi di dalam ingatan. Tetapi kesah kesah itu telah pun beberapa tahun berlalu. Kemungkinan Haji Kamus sudah tidak lagi berkelakuan sebegitu rupa. Ekoran dari kesedaran tersebut, Ramlah pun sangguplah menumpang kereta itu.

Setiba mereka di bandar, Ramlah pun turunlah untuk mengendalikan urusan yang telah dirancang. Haji Kamus begitu setia menunggu di dalam kereta. Setelah dua jam berlalu, barulah segala urusan Ramlah selesai. Dia pun bergeraklah menuju kembali ke kereta si bakal mertua.

Haji Kamus memerhatikan kemunculan semula bakal menantunya itu. Dengan penuh minat dia meneliti tubuh Ramlah dari hujung kaki hinggalah ke hujung rambut. Rawatan kecantikan yang telah dijalani itu amatlah berkesan. Mukanya nampak lebih lembut. Pipi Ramlah juga bertambah gebu dan licin. Sanggul rambutnya sudah pun terdandan indah. Cukup berseri kejelitaan Ramlah pada ketika itu. Dia tak ubah seperti ratu cantik bertaraf dunia. Memang meneguk air liur Haji Kamus menatap keayuan si bakal menantunya itu.

Haji Kamus segera keluar dari kereta dan bergerak menghampiri Ramlah. Jom kita minum dulu. Pelawa bakal mertua Ramlah. Tak nak lah. Jawab Ramlah. Namun keadaan cuaca agak panas pada hari itu. Tekaknya juga dah mula terasa dahaga. Lantaran Ramlah pun segera mengubah fikiran. Bungkus ajelah. Saya nak balik cepat ni. Sambung Ramlah lagi.

Maka Haji Kamus pun bergegaslah menuju ke sebuah gerai minuman yang berhampiran. Sementara itu Ramlah menanti di sisi kereta. Dia tidak dapat masuk kerana ianya berkunci. Siap saja minuman itu, Haji Kamus pun berkejar kembali ke kereta. Dalam pada itu, dia sempat melarutkan sebiji pil hayal ke dalam minuman Ramlah.

Haji Kamus pun menghulurkanlah air itu pada bakal menantunya. Oleh kerana terlampau dahaga, si mangsa pun terus meneguk minuman tersebut. Air yang telah bercampukan pil hayal itu pantas mengalir masuk ke dalam perut Ramlah. Minuman yang dihulurkan oleh Haji Kamus tak sedikit pun diragui oleh si mangsa. Lantaran itulah maka sepenuh air yang ada di dalam plastik berkenaan diteguknya hingga habis.

Amat seronok Haji Kamus memerhatikan kebodohan Ramlah. Senyuman yang berlatarkan hajat miang, jelas terukir di wajahnya. Ramlah sudah pun terjerumus ke dalam perangkap Haji Kamus. Hari ini tahulah untung nasib pantat kamu tu Katanya di dalam hati. Sementara itu, pelir Haji Kamus sudah mula berasa segar. Penerajuan unsur unsur syahwat semakin terdesak untuk mengainayai Ramlah.

Haji Kamus membukakan pintu kereta. Ramlah pun sedikit terkangkang menunggeng untuk masuk ke dalam kereta. Ketika dia berkedudukan sebegitu, Haji Kamus pantas menyambar kesempatan. Tapak tangan kanannya terpekap ke bahagian bawah bontot Ramlah. Ishhh....!!! Apa niii...!!! Iiiiee...!!! Jahatnyaaaa....!!!! Sambut Ramlah dengan nada yang cukup benggang.

Secepat mungkin dia cuba melabuhkan bontotnya ke atas kerusi. Itu saja cara untuk menamatkan rabaan tersebut. Serba kelam kabut Ramlah menghempaskan bontot ke atas kerusi. Dia langsung tidak sedar bahawa penyandar tempat duduknya telah pun dibaringkan sehabis mungkin. Tindakan Ramlah yang sebegitu panik telah menyebabkan badannya terlentang ke belakang.

Ramlah cuba untuk bangun tetapi badannya terasa lemah. Peranan pil hayal tadi sudah mula menampakkan kesan. Ramlah langsung tak berupaya untuk mengalih kedudukannya. Tangan si mangsa terkapai kapai lemah. Manakala kakinya pula rasa terlalu berat untuk diangkat walau sedikit pun. Ramlah sudah tiada berpilihan lain. Terpaksa sajalah dia terus terbaring di situ.

Haji Kamus tahu bahawa Ramlah tiada lagi keupayaan melawan. Dia sudah boleh berbuat sesuka hati pada mangsanya itu. Pantas Haji Kamus menutup pintu yang di sebelah Ramlah. Sejurus kemudian dia pun masuk ke dalam kereta melalui pintu di sebelah pemandu. Tempat duduknya juga turut dibaringkan sehabis mungkin.

Dengan ruang yang cukup selesa Haji Kamus duduk memerhatikan sekujur tubuh Ramlah. Seluruh anggota tubuh si bakal menantu itu memang sudah tidak bermaya. Perlahan lahan Haji Kamus pun menyelak kain mangsanya. Keinginan nak tengak celah kangkang Ramlah begitu melonjak lonjak dirasakan. Sudah sekian lama dia memendam berhajat untuk melakukan perkara tersebut. Setelah cukup luas terselak, Haji Kamus pun menjengukkan muka ke dalam kain si bakal menantu.

Ummm.... Ramlah oooiii....!!! Gebunya peha kamu ni. Putih melepak dan lembut pulak tu !!! Dengan nada yang penuh geram Haji Kamus mencetuskan perasaannya. Kenapa buat macam ni.... Kan saya ni bakal menantu. Tolonglah bawa saya balik. Ramlah cuba memperjuangkan rayuan. Namun ianya langsung tidak diperendahkan. Bahkan semakin menggatal Haji Kamus bertindak ke atas Ramlah.

Apa kata kita buangkan seluar kecik ni Baru boleh tengok benda yang tersorok kat bawah tu. Heheheee....!!! Dengan rentak ketawa yang sebegitu miang, seluar dalam Ramlah pun perlahan lahan dilurutkan. Jangan lah....!!! Malu saya.Jangan buat cam ni....... ieeeee...!!! Saya tak nakkkk.....!!! Saya tak nakkkk....!!! Ramlah terus memperjuangkan sisa sisa rayuan. Tetapi sambil itu jugalah seluar dalamnya sedikit demi sedikit terlurut ke bawah. Lama kelamaan ia pun terlerai dari tubuh Ramlah. Si mangsa mula menanggis tersedu sedu. Hanya itulah saja usaha yang mampu dilakukannya.

Aduh mak oooiii...!!! Cantiknya pantat kamu ni. Bersih licin dan tak ada bulu pulak tu. Nanti aku buka kan lagi kangkang tu. Aku nak tengok panjang mana kelentik kamu ni. Haji Kamus pun segera bertindak mengangkat lutut Ramlah. Menyesal sayaaaa.....!!! Kalau tauuuu ........!!! Saya tak tumpang tadi. Menyesalnya sayaaaaa....!!! Sambil berselang selikan esak tangis, Ramlah meluahkan sesalan. Namun kangkang Ramlah tetap juga diperluaskan selagi mungkin. Dalam pada itu kepala Ramlah dah mula jadi semakin berat. Penangan pil hayal telah pun menyerap ke dalam saraf otak. Akhirnya dia terus terlelap hingga tidak sedarkan diri.

Kereta berkenaan terus dipandu oleh Haji Kamus ke suatu tempat yang agak terpencil. Di situlah dia memikul Ramlah masuk ke dalam sebuah rumah. Tubuh bakal menantunya itu dibaringkan di atas katil. Kedua belah tangan Ramlah ditambat kemas. Ketika Haji Kamus melakukan perkara berkenaan, bakal menantunya itu masih lagi tidak sedarkan diri.

Apabila Ramlah mulai sedar semula. Dia kelihatan amat keliru. Kepalanya masih pening pening. Tapi tangan dan kaki sudah boleh digerakkan. Ramlah tak tahu bagaimana dia boleh berada di situ. Lebih merisaukan lagi ialah kedaannya yang berkedudukan meniarap di atas katil. Pergerakkan kedua belah tangan Ramlah juga terbatas. Ia sudah pun tertambat kemas pada penjuru katil berkenaan. Kedua belah kakinya masih bebas. Namun ruang yang ada tak upaya dimanfaatkan kerana terlalu sempit.

Walau bagaimana pun Ramlah berasa sedikit lega kerana pakaiannya masih lagi tersalut pada tubuh. Tetapi kelegaan tersebut tidak kekal lama. Dia kembali mengelabah apabila terdengar bunyi tapak kaki sedang bergerak menghampirinya. Ramlah sedaya upaya cuba memalingkan muka untuk mengecam wajah orang itu. Tetapi segala usaha berkenaan gagal mendatangkan sebarang hasil.

Bunyi menapak itu terus juga bergema. Setiap hentakan membuatkan perut Ramlah terasa seram sejuk. Dia mula mengelupur tak tentu arah. Hatinya membisekkan sesuatu yang menyakitkan akan berlaku. Bersungguh sungguh Ramlah mencuba ikhtiar untuk melepaskan diri. Namun ikatan tali berkenaan telah berjaya memantau pergerakkannya. Yang dia dapat hanyalah sekadar menyakiti pergelangan tangan sendiri.

Ramlah tiba tiba tergamam. Sepasang tangan mula meraba raba bontotnya. Kalau kamu laku baik, kamu akan selamat. Aku tahu kamu ni takut. Baik bertenang aje. Kamu memang tak boleh lepas kali ni. Suara Haji Kamus itu amat Ramlah kenali. Cukup tegas nada penyampaian pesanan tersebut. Lemah semangatnya bila menyedari bahawa cengkaman Haji Kamus masih lagi belum berakhir. Namun Ramlah cuba juga mententeramkan gelodak perasaan yang sedang melanda itu.

Perkara yang amat ditakuti, mulalah terbayang di dalam kepalanya. Ramlah sudah dapat mengagak kenapa dia di bawa ke situ. Yang lebih merisaukan ialah hajat buruk yang bakal ditagih oleh Haji Kamus. Selama 19 tahun pantat daranya telah berjaya dipertahankan. Sepatutnya bukan pelir mertua, tapi pelir suami yang berhak dianugerahkan kalungan dara tersebut. Amat tak rela Ramlah kehilangan dara dengan cara yang sebegitu sumbang. Maka bila menyedari akan hakikat berkenaan, dia jadi bertambah panik. Tingkah lakunya juga nampak semakin liar.

Jangan...!!! Tolonglah saya. Lepaskan saya..... Saya tak lapurkan pada sesiapa. Jangan rosakkan saya macam ni.....!!! Sambil meronta ronta, Ramlah merayukan belas ihsan. Namun dia sedar bertapa degilnya si bakal mertua itu. Peluang untuk selamat memang terlalu samar. Sejurus kemudian dia pun mulalah menagggis.

Kamu nak berkelakuan baik atau tidak Ayat itu tamat dengan satu cubitan yang amat keras pada bontot Ramlah. Ternganga mulut Ramlah menanggung kesakitan. Soalan dari Haji Kamus hanya mampu dijawabkan dengan tangisan yang mendayu dayu. Sambil itu bontot Ramlah terus menjadi sasaran rabaan si bakal mertua. Tangan berkenaan menjalar di sekitar kebulatan bontot si mangsa.

Sekarang kamu mesti bangun melutut. Kamu tonggeng dan sembamkan pipi ke atas tilam. Suara garau itu memberikan arahan dengan nada yang cukup garang. Kecut perut Ramlah mendengarkan kebengisan yang sebegitu rupa. Dia terlalu takut untuk disakiti lagi. Maka bergegas dia pun bertindak untuk mematuhi arahan itu.

Memang kemas tangan Ramlah terikat. Itulah punca yang menyukarkan usahanya untuk melaksanakan arahan tersebut. Bersungguh Ramlah cuba meninggikan bontot. Walaupun sukar, namun usaha tetap diteruskan. Setelah bertungkus lumus memajukan gerak, akhirnya berupaya juga Ramlah melakukan sepertimana yang dikehendaki. Bontotnya sudah pun tinggi menunggeng. Bagi menampung kedudukan itu, pipi Ramlah memanglah terpaksa disembamkan ke atas tilam. Namun dia tak punya banyak ruang untuk memileh keselesaan. Bagi mengimbangi tubuh, Ramlah terpaksalah membuka kangkang dengan lebih luas.

Akibat dari tindakan tersebut, pehanya tidak lagi boleh dirapatkan. Cukup luas ruang yang ternganga di situ. Dia sendiri telah meletakkan celah kangkangnya pada kedudukan yang amat bahaya. Dengan cukup mudah celah kangkang Ramlah boleh disakiti dengan beranika corak ancaman. Dia jadi serba salah. Ramlah menyesal kerana telah terperangkap sebegitu rupa.

Bagaikan orang ngantuk disorong bantal, Haji Kamus pantas menyambar kesempatan tersebut. Tangannya laju menyeluk masuk ke dalam kain Ramlah yang sudah tiada berseluar dalam itu. Cukup mudah tapak tangan si bakal mertua menjamah permukaan pantat si bakal menantu. Jari jari Haji Kamus buas melakari sudut sudut alur pantat Ramlah. Kelentiknya juga sesekali terkena sentuhan tersebut. Ramlah hanya mampu tercunggap cunggap sambil melinangkan air mata.

Haji Kamus bertindak semakin ganas. Zip kain Ramlah dibukanya dan kain tersebut terus dilondehkan. Bontot Ramlah sudah tidak lagi beralas. Kulit yang halus memutih itu nampak amat indah tertonjol. Lebih lebih lagi bila Ramlah berkedudukan menunggeng sebegitu rupa. Lubang pantatnya juga telah siap sedia terkangkang luas. Sembulan setampuk pantat itu cukup jelas buat tatapan Haji Kamus. Ramlah benar benar rasa terdedah. Bakal mertuanya itu bila bila saja boleh melakukan pengainayaan terhadap lubang pantat si menantu.

Tiba tiba Ramlah terasa katil itu bergegaran. Ia ekoran dari tindakan Haji Kamus memposisikan diri di belakangnya. Ramlah semakin cemas. Dia boleh mengagak apa yang cuba dilakukan oleh bakal mertuanya itu. Tidaaaaak.....!!!! Tolonglah... Saya tak nak. Dara tu untuk suami. Bukan mertua. Bagilah suami dapat dulu. Ishhh..... Jangan masuuuuuuk........!!! Saya sumpah dan janji. Pakailah pantat saya ni.......!!! Hari hari pun tak apa. Saya rela. Tapi...... Pujuk rayu Ramlah terputus begitu saja kerana Haji Kamus segera mencelah kata.

Kan dah aku cakap tadi !!! Kamu mesti berkelakuan baik !!! Dengan kata kata tersebut, satu das tamparan keras hinggap ke atas bontot yang tidak beralas itu. Terbeliak biji mata Ramlah merasai gigitan tamparan tersebut. Berdenyut denyut kepedihan yang terasa pada bontotnya itu. Kemerahan kesan tapak tangan sudah jelas terbekam pada keputihan bontot Ramlah.

Baguslah kalau kamu janji hari hari nak bagi pantat. Jangan takut. Memang aku tuntut janji kamu tu. Macam ni lah menantu yang bertanggung jawab. Menantu yang pandai jaga mertualah katakan. Tapi dara kamu ni, tetap aku juga yang punya. Heheheeee.....!!!! Sambung Haji Kamus lagi. Kepedihan di bontot Ramlah belum lagi reda. Tapi si bakal mertua dah mula merangkul pinggang si bakal menantu. Pelir Haji Kamus nampaknya sudah tidak sabar sabar lagi nak berkubang di dalam lubang pantat Ramlah.

Perlahan lahan si batang pelir mencelahkan laluan untuk memasuki lubang pantat. Sungguhpun perlahan namun ianya cukup tegas. Pantat dara itu diterokai tanpa setapak pun langkah pengunduran. Walaupun sempit, namun ianya tetap ditekan dengan sepenuh paksaan. Sedikit demi sedikit si batang pelir mendalami telaga bunting Ramlah. Akhirnya tinggallah dua biji telur saja yang masih berada di luar pantat berkenaan.

Pada ketika itu kesakitan di dalam pantat Ramlah memanglah menggila. Rontaannya bagaikan ayam kena sembelih. Aaaaarrrrrrh.....!!! Sakiiiiittt...!!! Toloooonggg.....!!! Ampuuuuunnn.....!!! Cukuuuuuuuup.......!!! Berulang ulang gema jerit pekiknya yang nyaring. Ia kedengaran di setiap penjuru bilek tersebut. Pantat itu rasa seolah olah ada sebilah gergaji bulat tercucuk di dalamnya. Bisa gigitan batang pelir tak henti henti menikam dan menyakiti lubang pantat Ramlah. Setampuk pantatnya itu dah rasa nak terbelah dua akibat dari sulaan batang yang amat ganas. Hampir terputus nyawa Ramlah menanggung derita siksa. Lebih lebih lagi di peringkat awal mengharungi pengalaman tersebut. Tak pernah selama ini dapat dibayangkan ujudnya kesakitan yang sebegitu memedihkan.

Lama kelamaan rontaan dan esakan Ramlah dah mula reda. Kesakitan pada pantatnya masih lagi terasa. Namun semangat tidak rela nya kian tersisih. Dia kelihatan lemah dan serba keletihan. Ramlah juga berasa amat keciwa kerana telah pun kehilangan dara. Mahu tak mahu dia terpaksa rela menghadapi segala galanya.

Macam ni lah baru budak baik. Duduk diam diam cam ni kan senang. Tak guna kamu melawan. Jerit sampai melangit sekalipun dara kamu tetap aku juga yang dapat. Cukup seronok dia melihatkan gelagat kekeciwaan si mangsanya itu. Sambil mata memerhatikan reaksi Ramlah, si batang pelir tetap juga menjalarkan aksi. Pada peringkat awal, rentak keluar masuk lubang pantat dilayarkan secara perlahan lahan.

Ramlah tak upaya lagi melakukan apa apa. Fikirannya juga sudah tiada dorongan untuk melayan sebarang idea. Dia hanya bersujud kaku sambil berterusan menunggeng di situ. Pipi Ramlah pun sudah basah berlumuran air mata. Mahu tak mau Ramlah terpaksa merelakan lubang pantatnya dicabuli oleh sondolan pelir bakal mertuanya itu. Lama kelamaan hayunan pelir menjadi semakin laju. Sikap berdiam diri si Ramlah telah memudahkan kerja si batang pelir. Ianya cukup selesa menghentak seberapa dalam dan seberapa ganas sekali pun.

Semakin kencang pelir menghayun, semakin ngilu kepedihan lubang pantatnya. Berkeret gigi Ramlah menahan kesakitan. Kesan kesan luka mula dirasai terujud di situ. Ianya diparahkan lagi oleh penyondolan rakus si batang pelir. Hampir berasap kepala Ramlah dilanda kepedihan yang amat sangat. Namun dia tetap juga mendiamkan diri. Begitu taat Ramlah merelakan penyeksaan terhadap lubang pantatnya itu.

Sebenarnya si mangsa hanya mahukan agar si batang pelir cepat tiba ke puncak nafsu. Penderaan pada pantatnya diharap akan dapat menyalurkan sesedap nikmat bagi pelir itu. Hasrat Ramlah agar Haji Kamus segera mencapai kepuasan. Tujuannya semata mata bagi menamatkan punca kepedihan di situ. Hanya itu sajalah jalan keluar yang termampu Ramlah fikirkan.

Kesan dari sikap kerelaannya mula menampakkan hasil. Irama sorong tarik batang pelir dirasakan semakin berapi. Sejurus kemudian ia secara tiba tiba terhenti. Si kepala pelir dibenamkan jauh hingga ke dasar telaga bunting Ramlah. Kesan denyutan yang terbit dari kepala pelir itu memang ketara dapat dirasakan. Dia sedar bahawa tak lama lagi akan berakhirlah segala kesakitannya.

Hajat yang Ramlah pohon kian hampir tercapai. Mulut Haji Kamus dah mula berdesis desis. Manakala bunyi pernafasannya pula seperti kerbau kena sembelih. Ummm.... Sedapnyaaaa...!!! Sedapnya pantat kamu niiiii.....!!! Habis dara kamu Ramlah ooooiiiii...!!! Ketat betul lubang niiii.....!!! Ishhhhh.... Sedapnyaaaa... Ahhhhh... Ahhhhhh... Eeerrrrr....!!! Tak lih tahan lagi Ramlah oooiiiii....!!!

Ramlah amat yakin bahawa si batang pelir sudah diambang melakukan kencing nafsu. Episod ngerinya dah pun nak berakhir. Ketika itu perasaan Ramlah semakin lega. Dengan hati yang tenang dia menantikan ketibaan detik detik kebebasan.

Namun kelegaan tersebut tidak kekal lama. Sejurus kemudian kelegaan bertukar menjadi kegelisahan. Ramlah mula teringatkan kemungkinan bunting. Sebentar lagi benih Haji Kamus akan tersemai di dalam perutnya. Hakikat berkenaan menyebabkan Ramlah berkelakuan amat resah. Lebih membimbangkan ialah waktu itu dia berkeadaan paling subur. Kemungkinan bunting terlalu besar untuk dinafikan. Ramlah mula cemas.

Tolong jangan lepaskan dalam perut saya. Saya tengah subur ni. Mesti jadi budak nanti. Dengan serba merendah diri, Ramlah merayu rayu. Bersungguh dia mengharapkan belas ihsan dari si bakal mertua itu. Ramlah terlalu yakin bahawa benih Haji Kamus akan berupaya membuncitkan perutnya. Dia terlalu takut untuk menghadapi kemungkinan bunting di luar nikah. Apatah lagi dari benih pak mertuanya sendiri !

Besok kamu dah nak kawin. Apa nak ditakutkan. Kalau bunting, bin kan sajalah dengan nama suami kamu tu. Kan serupa aje. Jadi anak pun boleh. Jadi cucu pun boleh. Tak siapa yang tahu melainkan kita berdua..... heh heh heh.. Dengan ketawa tersebut maka berceret ceretlah pancutan air mani Haji Kamus. Cecair benih itu diterbitkan dengan amat banyak. Telaga bunting Ramlah begitu cepat dibanjiri oleh takungan air pekat yang serba memutih. Serata pintu rahimnya juga penuh dipaliti cecair melengas berkenaan.

Kehangatan semburann cecair benih, dapat Ramlah rasakan bergelodak di dalam perutnya. Ia sedang berjuang untuk menunaskan cantuman baka di dataran rahimnya yang subur itu. Cecair bunting Haji Kamus berpesta di dalam perut Ramlah. Jutaan air mani cukup sengit merebut peluang untuk membuncitkan perut si bakal menantunya sendiri.

Ramlah termenung sejenak. Fikirannya mengimbasi nasib yang telah pun berlaku. Cita cita Ramlah tidak kesampaian. Dia gagal untuk menghadiahkan sepantat dara kepada suaminya kelak. Hadiah tersebut telah pun terlebih dahulu dimiliki oleh bakal mertua Ramlah sendiri. Dia merasakan terlalu sumbang untuk menghadapi ketetapan takdir yang sedemikian rupa.

Bukan setakat itu saja. Ada se perkara lagi yang lebih merunsingkan Ramlah. Benih yang disemaikan oleh pelir mertuanya itu akan bertunas menjadi budak. Dalam masa beberapa bulan lagi perut Ramlah sudah tentu nampak buncit. Dia terpaksa menghamilkan anak hasil dari persetubuhannya dengan bapa mertua sendiri. Seram sejuk perut Ramlah memikirkan perkara tersebut.

Namun seperti kata bakal mertuanya tadi, tak siapa yang tahu melainkan kami berdua saja. Bila teringatkan ayat ayat tersebut barulah reda kerunsingan Ramlah. Itulah dalil pedoman yang telah memulihkan semangatnya. Besok Ramlah akan tetap menaiki jinjang pelamin. Kegembiraan untuk meraikan hari yang bersejarah itu, mula dapat dirasai kembali.

Cerita bersiri - Lorong Jalang

Maka sekali lagilah tibanya malam untuk berpindah. Aku pun lakukanlah sepertimana yang biasa dilakukan pada setiap kali menjelangnya malam perpindahan. Tak lain tak bukan aku menuju ke kedai si budak Rosli tu. Nak perdayakan dia buat kali terakhir. Lepas ni jangan haraplah nak terjumpa aku lagi. Di malam terakhir tu memang aku dah set nak tekan habis-habisan. Lagi pun hutang aku di kedai tu belum lagi mencecah angka ribu. Maklumlah sebab masa dah tak mengizinkan. Aku nampak ini sebagai satu kesempatan yang cukup mudah. Pasal sembang dan reka alasan tu memang belumlah pernah aku gagal.

Dengan hanya berkain batik dan berbaju T aku bergerak menuju ke kedai Rosli. Aku melenggang dengan tangan kosong. Se sen duit pun aku tak bawak. Begitu kuat keyakinan aku. Make-up aku pun hanya sekadar ringan-ringan sebab masa tu tengah sibuk nak pindah. Aku nampak hanya Rosli seorang saja yang ada di dalam kedai. Dia pun dah macam nak tutup kedai. Peluang sebegini memang kira dah cukup cantik. Aku pun pantas berjalan dan masuk ke dalam kedai. Rosli tersenyum riang apabila menyedari aku dah berdiri di depannya. Aku jadi seronok dengan sambutan yang diberikan. Maklumlah si anak muda tu kelihatan begitu merindukan aku. Tapi ianya taklah menghairankan sebab memang ramai pemuda yang berahikan tubuh montok aku.

Malangnya belum pun sempat aku nak memilih barang, beberapa lelaki melayu pantas menerpa masuk ke dalam kedai. Aku menjadi serba keliru. Satu persatu muka mereka aku tatap. Tiba-tiba saja menggeletar sekujur tubuh ku. Memang kesemuanya aku kenal. Merekalah diantara beberapa peniaga yang dah pernah hidup-hidup aku tipu. Diantara mereka saja jumlah hutang aku dah cecah puluhan ribu. Muka aku pucat lesu. Suara aku dah jadi tersekat-sekat. Maklumlah orang dah buat salah. Masing-masing pulak nampaknya penuh dengan hasrat dendam. Niat untuk menagih penyelesaian jelas terpamir di wajah mereka.

Rupa-rupanya sudah dua hari dua malam kedatangan aku dinantikan. Sepanjang masa tu memang aku tak sempat ke kedai sebab sibuk mencari rumah sewa baru. Sekarang barulah aku sedar bahawa rahsia aku dah pun terbongkar. Alangkah melesetnya sangkaan aku. Senyum riang si Rosli tadi bukanlah sebab rindukan aku. Pepatah “secekap-cekap tupai melompat akhirnya ke tanah juga” mula terngiang-ngiang di telinga. Kini aku dah terperangkap. Pergelangan tangan ku sudah kemas diberkas oleh dua lelaki gagah. Manakala yang lainnya tu memerhati sambil memantau keadaan. Nak melawan pun tak berguna sebab tenaga mereka memang jauh lebih kuat. Lagi pun bilangan mereka ramai. Maka terpaksalah aku pasrah dan menyerah diri tanpa sebarang tentangan fizikal.

Melihatkan aku dah tak melawan mereka pun mulalah mencapai dua utas tali. Dengan tali itulah kedua belah tangan aku ditambat ke kiri dan kanan seperti huruf T. Maka berdirilah aku di situ di dalam keadaan mengadap mereka. Aku cuba juga nak melepaskan diri. Tapi segala usaha menemui kegagalan. Tali itu dah ditambat dengan kemas dan teliti. Mereka garang memberitahu bahawa segala hal-hal penipuan aku sudah dilapurkan kepada polis. Segala bukti yang ada pun sudah cukup jelas untuk mengheret aku ke penjara. Malahan pihak polis juga dah lama nak tangkap aku.

Berita pembabitan pihak berkuasa itu ternyata amat mengejutkan. Tergamam aku setelah mendengarkan. Selama ini di fikiran tak terlintas langsung mengenai perkara tersebut. Kecut perut aku dibuatnya. Dengan nada yang serba ketakutan aku merayu agar pihak berkuasa tidak dibabitkan. Malahan aku berjanji akan selesaikan semua hutang-hutang mereka. Apa saja yang dikehendaki aku akan patuhi. Jual puki pun aku dah nyatakan kesanggupan. Malahan aku sampai berani bersumpah akan mengangkang siang-malam pagi-petang sehinggalah langsai segala hutang. Tak cukup dengan itu, aku juga lebih rela sentiasa dibuntingkan supaya anak-anak tu bolih dijual untuk cepat dapat selesaikan hutang. Segala-galanya aku sanggup asalkan tidak melibatkan pihak berkuasa.

Tetapi tawaran yang ku sangkakan hebat itu hanya disambut dengan ketawa yang berdekah-dekah. Hati ku amat terguris. Begitu hina layanan mereka. Maruah diri ku bagaikan dah direntap robek. Mereka seolah-olah dah dapat membaca bahawa segala sumpah dan janji aku tu hanyalah sekadar cubaan melepaskan sesak. Semakin jelas mesej yang mahu disampaikan. Memang tak ada apa pun yang mereka nak dari aku. Tujuan utama mereka hanyalah nak pastikan aku merengkok dalam penjara. Terkedu aku mendengarkan hasrat yang sebegitu kejam.

Sejurus kemudian aku nampak salah seorang daripada mereka mencapai handfon. Aku jadi semakin gelisah mengenai kemungkinannya. Namun perkara yang paling aku takuti berlaku jua. Jelaslah dia memanggil polis untuk datang menangkap aku. Memang sungguhlah kehendak mereka nak tengok aku masuk penjara. Dia memberitahu rakan-rakannya bahawa polis akan sampai dalam masa setengah jam. Kesemuanya tersenyum terangguk-angguk menyambut perkabaran tersebut.

Aku pula tersentak keciwa. Semangat aku dah tersentap habis. Secara tiba-tiba dunia menjadi semakin gelap. Aku dah mula terbayangkan nasib diri. Buat beberapa tahun yang akan datang terpaksalah aku hidup di dalam penjara. Alangkah hinanya menjadi seorang banduan. Malunya bukan alang kepalang. Sungguh berat hatiku nak terima hakikat itu. Airmata ketakutan mulai membasahi pipi. Dada ku juga menjadi semakin sebak. Aku dah kehilangan arah. Nasi telah menjadi bubur. Semakin sukar aku menahan perasaan. Akhirnya aku pun menanggis teresak-esak tak ubah seperti si budak kecil kena cubit.

Setelah hampir 30 minit menanggis dan merenget, pundi kencing aku pulak dah mula buat hal. Sebenarnya sejak dari rumah tadi pun aku dah berhajat sangat nak kencing. Tapi masa tu budak-budak yang mengangkut barang pindahan tu pula tengah sibuk bekerja kat rumah. Bilik air tu pulak memang dah lama tak berpintu. Maka terpaksalah aku tangguhkan. Kerana tak nak buang masa aku pun buat keputusan untuk tahan kencing sehingga pulang dari kedai Rosli.

Kini desak hajat itu sudah terlampau sarat. Keadaan berdiri aku pun mula jadi tak tentu hala. Kelam kabut usaha aku untuk merapatkan kangkang. Injab saluran kencing aku dah hampir tak terkawal. Tanpa segan silu aku bersuara memaklumkan hajat. Sekali lagi mereka ketawa terbahak-bahak melihatkan kaki aku dah terkinjal-kinjal menahan kencing. Namun permintaan aku telah ditolak bulat-bulat. Malahan aku dihina lagi. Mereka suruh aku kencing saja di situ di dalam keadaan berdiri dan berkain batik. Merah padam muka aku menanggung malu penghinaan. Maruah kewanitaan aku sudah tak lagi mereka perdulikan.

Sambil geleng kepala aku menyambung rayuan. Lagipun bila-bila masa saja polis akan sampai. Kalau tak sekarang mungkin entah berapa jam lagi baru aku jumpa tandas. Memang akan terkencing dalam kainlah nanti. Tak sanggup aku dimalukan sebegitu rupa. Sesuatu mesti segera dilakukan. Akhirnya aku bersumpah tak akan cuba lari. Tiada lagi jalan lain yang upaya diikhtiarkan. Sebagai jaminan aku rela melucutkan kesemua pakaian yang ada di tubuh. Aku sanggup bertelanjang bulat untuk melepaskan hajat. Biar aku kencing di kawasan gelap di luar sana. Bila dah siap barulah diserahkan kembali pakaian aku.

Mereka terdiam sekejap setelah mendengarkan cadangan aku. Hati aku lega sikit kerana ianya tidak ditertawa atau dijadikan bahan penghinaan. Mereka mula berbincang mengenai permintaan aku. Aku memang berharap sangat agar diberikan peluang kencing sepuas-puasnya sebelum diseret ke balai polis. Nampaknya mereka bersetuju. Aku sendiri pun tak bercadang nak lari. Lagipun sampai ke manalah yang dapat aku pergi di dalam keadaan bertelanjang bulat. Mungkin di atas pertimbangan faktor itulah mereka akhirnya menerima cadangan aku.

Setelah ikatan tangan dilepaskan aku pun pantas bertindak untuk membogelkan diri. Tangan aku terketar-ketar menahan desakan kencing. Kain batik, baju, bra, panties dan kasut telah pun terpisah dari tubuh ku. Tanpa perasaan malu kesemuanya ku serahkan kepada mereka. Manakala aku pula dah berkeadaan tanpa seurat benang di tubuh. Sebab aku baru lepas bersetubuh, air mani suami ku masih lagi meleleh membasahi peha. Kesan cecair pekat yang serba putih itu juga sudah kelihatan bertakung di alur puki aku. Tak sedikit pun tangan aku cuba menutupi mana-mana bahagian malu ditubuh. Puki, tetek dan bontot ku biarkan menjadi bahan tatapan mereka.Masa sudah kecemasan sangat. Kini matlamat aku hanyalah nak kencing sepuas-puasnya.

Maka terbeliaklah mata mereka menikmati kemontokkan susuk tubuh aku yang tinggi lampai. Bontot tonggek ni saja sudah cukup untuk merangsang syahwat. Masa pakai kain pun ramai yang keras punai ini kan pulak bila dah bogel. Persetubuhan yang tidak mengeciwakan. Itulah janji yang diundang oleh tundun puki aku memang ketara gebunya. Semasa berkain sempit pun dah bolih jelas nampak tingginya bonjolan tundun tu membusut inikan pula bila dah telanjang bulat. Setiap pelusuk tubuh ku sudah pun terdedah. Yang pastinya aku kini menjadi bahan tatapan yang sedang membangkitkan berahi di punai mereka. Memang ada pun yang dah keras punai. Bagi mereka inilah bonus usaha memburu aku. Selesai nanti masing-masing kena balik cari pukilah jawabnya.

Setelah mendapat izin aku pun bergeraklah untuk menunaikan hajat. Berkaki ayam aku melangkah keluar seorang diri sambil berlari anak secara terjingkek-jingkek. Aku mencari tempat.yang agak gelap dan terselindung dari pandangan. Liar mata aku meneliti persekitaran. Pantas aku buat keputusan. Tempat yang paling sesuai ialah di kawasan semak di belakang kedai. Malangnya tak sempat pun sampai ke situ kencing aku sudah berburai. Airnya keluar memancut-mancut dengan deras. Sambil berlari anak, sambil itu jugalah aku kencing. Ianya sudah di luar upaya kawalan. Peha aku lenjun dibasahi air kencing. Namun aku tetap juga teruskan perjalan ke tempat yang dituju. Sampai di situ barulah aku berpeluang kencing bertenggung. Walaupun separuh pundi kencing aku dah dikosongkan tapi masih ada lagi separuh yang belum lega.

Baru beberapa saat bertenggung aku menyedari bahawa kaki aku terpijak sesuatu yang rasanya diperbuat daripada kain. Aku pun segera berdiri meraba-raba benda tersebut. Sambil itu air kencing aku tetap juga terus mengalir. Memang sah ianya kain. Tapi kain apa, maupun warna dan keadaannya tak dapat aku pastikan di dalam kegelapan malam yang pekat ini. Yang pasti ialah saisnya cukup besar untuk menyaluti tubuh ku. Aku mula bertindak nekad. Ini sajalah secebis peluang yang ada untuk elak daripada menghuni penjara. Segala sumpah janji tadi sudah mula nak ku khianati.

Dalam masa beberapa saat saja kain tersebut dah pun terlilit ditubuh. Sambil kencing ku lakukan. Masa sudah menjadi faktor keutamaan. Ternyata kain itu penuh diseliputi pasir dan ada bahagian yang agak lembap. Baunya juga teramatlah busuk. Namun yang penting ianya cukup muat. Sambil masih kencing aku pun mulalah bergerak untuk melarikan diri. Laluan jauh menjadi pilihan. Di malam yang gelap itu aku terpaksa meredah kawasan semak dan belukar dengan hanya berkaki ayam. Arah mana nak dituju pun aku tak tau. Yang penting aku mesti bergerak pantas dan sejauh yang bolih. Biarlah malam ni aku penat mengharungi sesat. Biarlah malam ini kaki aku luka terpijak duri dan ranjau. Apa saja asalkan aku tak menanggis kerana merengkok di dalam penjara. Aku berharap sungguh agar sakit tanggis aku ini tidak sia-sia. Janganlah sampai aku kejar dan ditangkap semula. Cukuplah sekali tu tadi aku terjebak.

Setelah hampir setengah jam barulah aku sampai ke rumah. Aku tercunggap-cunggap keletihan. Terdengkut-dengkut aku berlari. Kaki aku luka dan berdarah. Rambut dan muka aku dah berselerak tak tentu hala. Suami aku kelihatan gelisah. Van kecil itu juga sudah lama bersiap sedia untuk bergerak. Semuanya hanya menantikan kemunculan aku. Bila aku muncul, suami aku bukan main marah lagi. Dia juga mendesak nak tau kemana dan kenapa begitu lama aku menghilangkan diri. Yang paling dia nak tau ialah tentang pakaian dan keadaan aku yang tak ubah macam baru lepas kena rogol. Sebab tak nak buang masa aku berjanji akan ceritakan segala-galanya di rumah baru nanti. Mujurlah dia bersetuju dengan perjanjian tersebut. Dengan keadaan aku yang serba sebegitu aku pun naiklah ke dalam van manakala suami aku pula menunggang motosikalnya menuju ke rumah sewa kami yang ke duabelas.